Sebenarnya, distro OpenSUSE ini sudah rilis cukup lama. Namun, baru bulan ini, saya bisa menjajal kemampuan OpenSUSE 11.2. Distro ini saya dapatkan dari Info Linux edisi Februari 2010. Dari Info Linux ini, saya juga mendapatkan sebuah Distro lain, yaitu ClearOS 5. Selain itu, terdapat OpenSUSE 11.2 Gnome Live CD, serta paket extras dari OpenSUSE yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita yang ingin menginstall aplikasi dari OpenSUSE secara offline. Distro utama yang ada pada DVD bonus dari Info Linux adalah OpenSUSE installer yang cukup lengkap. Saat saya mencoba untuk boot dari DVD tersebut, langsung muncul halaman install OpenSUSE 11.2. Karena penasaran, saya langsung saja menginstall OpenSUSE tersebut pada salah satu partisi harddisk saya yang sengaja saya siapkan untuk menjajal distro-distro Linux yang lain.
Pilihan desktop utama untuk OpenSUSE yang saya install adalah KDE. Tampilan KDE khas dari OpenSUSE setelah selesai install dan login, sangat menarik. Warna hijau dan start menu berlogo kepala bunglon menghiasi desktop KDE dari OpenSUSE. Namun, saya mengalami berbagai masalah baru saat menjajal OpenSUSE ini. Beberapa masalah tersebut adalah:
1. Network Connection tidak mampu berjalan dengan baik saat saya mencoba menghubungkan notebook saya ke internet menggunakan fasilitas modem sierra u 885. Walaupun terjadi dial, namuntidak mau terhubung. Bahkan saya tunggu hingga 15 menit, tidak mau untuk menyambungkan modem sierra saya ke internet. Namun, ada kalanya bisa terhubung dengan internt. Namun, masalah lain muncul. Masalah tersebut adalah sayatidak bisa membuka halaman web apapun, termasuk google, situs paling ringan. Hingga saat ini, saya masih mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
2. Wvdial tidak bisa berjalan dengan lancar. Tidak seperti pada Ubuntu, OpenSUSE cukup merepotkan dalam masalah Wvdial. Jika pada Ubuntu, saya tidak perlu sampai melakukan edit pada file resolv.conf. Karena, pada Ubuntu dan keturunannya, secara otomatis wvdial akan menentukan nameserver yang akan ditulis di file tersebut. Karena saya menggunakan im2, maka saya edit file tersebut secara manual dan menambahkan nameserver dari DNS im2. Saat ini, masalah wvdial telah teratasi dengan baik.
3. Terlalu berat untuk prosesor intel atom notebook saya. Walaupun tamilan OpenSUSE sangat cantik, naun terasa sangat berat untuk notebook yang saya miliki. Selain itu, saat melakukan browsing, kecepatan internet yang saya gunakan juga terasa cukup berat. Sehingga, saya masih jarang untuk pamer distro baru di blog saya, dengan meninggalkan komentar di blog saya untuk test useragent.
Hingga saat ini, OpenSUSE 11.2 masih saya pelajari lebih lanjut lagi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada pada OpenSUSE. Namun, kata seorang Linuxer handal dari Banyumas, Pradna, OpenSUSE edisi genap memang sering mengalami masalah, terutama masalah networkingnya. Namun, saya tetap bersemangat untuk mempelajari OpenSUSE ini. Apakah para sahabat mengalami masalah lain dalam menghadapi OpenSUSE 11.2?
Jadi inget… saya dulu menyelesaikan proyek tugas akhir kuliah saya pake OpenSUSE 10.3 (LOL)
@andri, tunggu ilmu baru lagi dari Linuxer handal.
wah (woot) rupanya yang 11.2 bermasalah yah … walau udah pake paket extra … :-& … ampun dech … (unsure) … kok screenshot-nya engga ada? …
.-= gadgetboi´s last blog ..dapat award dari mas estiko (jimbun punya) =-.
@gadgetboi, (doh) lupa. Soalnya masih belum saya acak-acak lagi… (LOL)
Knetworkmanager-nya kadang memang bermasalah. Kayak ada bentrok ama paket lain. Saya lupa. Sekarang sudah pakai Arch Linux. Cahya Legawa masih pakai openSUSE plus KDE 4.4.x. Katanya, sekarang dah aman-aman aja.
Terkait paket dnsmasq?
btw, kenapa ngga pakai wp-spam-free aja?
.-= dani´s last blog ..Doc, e-patient complaints posted on the Internet =-.