Sejak mengenal Linux, terutama Ubuntu, saya sangat senang saat menggunakan desktop KDE, karena penampilannya yang cerah. Namun, sejak Ubuntu dan Linux Mint yang menggunakan desktop Gnome saya rias agar tampil lebih cantik, maka KDE mulai tersingkir. Terlebih lagi, KDE sempat menjadi musuh dari odem Sierra U885 yang saya miliki. Alasannya sangat mudah, yaitu KDE tidak mau membaca modem saya. Saat terbaca, network connection yang biasa saya gunakan untuk menghubungkan notebook saya ke internet, tidak dapat digunakan, kecuali untuk menghubungkan notebook saya ke internet menggunakan jalur wifi.
Selain itu, saat saya senang menggunakan KDE dan meriasnya agar tampil seperti windows 7, tiba-tiba terjadi crash yang membuat saya harus membuangya. Satu bulan lebih saya tidak menggunakan desktop KDE sejak terjadi crash, hingga akhirnya saya menyandingkan desktop KDE, LXDE, XFCE dan Gnome dalam satu Ubuntu. Beberapa aplikasi KDE seperti Bilbo Blogger dan Akregator merupakan aplikasi yang sangat saya sukai. Karena aplikasi sangat berguna bagi saya yang hanya seorang blogger pemula yang sedang belajar. Dengan bantuan wvdial, serta modem yang sinyalnya harus dipancing terlebih dahulu melalui desktop Gnome, saya sering menggunakannya untuk surfing dan juga pamer kepada teman saya yang masih belajar Linux, bahwa tampilan Linux bisa cantik.
Namun, saat ini desktop KDE seperti layaknya flock browser yang terlupakan. keasyikan sata menggunakan Ubuntu Gnome, serta berbagai uji coba saya yang mengharuskan saya untuk menggunakan desktop Gnome, membuat KDE tersingkir. Namun, saya asih enggan untuk menyingkirkan desktop KDE secara permanen dari Ubuntu saya dengan melakukan unisntall terhadap desktop KDE. Memang, KDE lebih memakan resource yang lebih besar dibandingkan desktop lain. Namun, kecantikan desktop KDE tanpa harus dirias, membuat saya merasa lebih nyaman. Bahkan, saat saya mencoba windows 7 versi trial, desktop windows 7 sangat mirip dengak KDE. Berhubung KDE lebih tua dibandingkan windows 7, saya beranggapan bahwa windows 7 menjiplak KDE. Namun, itu hanyalah pikiran saya saja.
Kini desktop KDE yang ada di Ubuntu saya masih tetap menjadi desktop alternatif bagi saya. Jika bosan dengan tampilan desktop gnome, maka KDE adalah pilihannya. Karena, LXDE dan juga XFCE masih kurang menarik perhatian saya untuk menggunakannya.
KDE sing kaya ngapa ya nyong kelalen kiye
.-= endar´s last blog ..How to install Gyachi in ubuntu 9.10 =-.
Nice info….. saya masih setia dengan Gnome.
.-= Pingin Ngeblog´s last blog ..Hypocrisy Outbreak =-.
bukannya saya melupakan KDE lho!
melainkan terlalu berat buat vga-nya si acerwan yang cuma 8MB… (doh)
.-= Andy MSE´s last blog ..Macam-macam Media Promosi (2) =-.
kebalikannya…hati saya sudah berpaling dari GNome kepada KDE
apalagi Cafe 27 sudah tutup (devil)
.-= Pojok Pradna´s last blog ..Blogshop dan Internet Sehat di Al Hikmah 2 Bumiayu =-.
ayo pake KDE! (sundul)
gak mudeng nggawe upu, lha wong utek dedel le wes buntu…., pokok e nggawe gawane ubuntu 9.10 wae
.-= alief´s last blog ..Pre-Order CD Ubuntu =-.
menurut saya KDE terlalu komplex, enggak seperti gnome … makanya untuk setiap versi linux saya lebih suka gnome. pclinuxos nunggu versi gnome, opensuse juga pake yang gnome, fedora juga (nyengir) … satusatunya linux yang enggak punya gnome yang ingin saya pake itu slackware …
.-= gadgetboi´s last blog ..So, listen to da radio … =-.
@gadgetboi, Walaupun terlalu kompleks, KDE bisa membuat para pemula tertarik dengan penampilannya yang bening sejak awal. Seperti saya ini yang masih sangat pemula dalam Linux.
memang tampilan kde bersinar terang tapi tersa lebih berat daripada gnome.Makanya saya sampe sekarang pake gnome (drinking)